Di Balik Tragedi Politik Menimpa Sang Jenius Nan Santun
KATA HATI ARCHANDRA KETIKA BERTELEPONAN DENGAN SAYA
Catatan: Anna Yulend (wartawan wartaone Jakarta)
KATA HATI ARCHANDRA KETIKA BERTELEPONAN DENGAN SAYA
Catatan: Anna Yulend (wartawan wartaone Jakarta)
Mudah-mudahan ini adalah kekhawatiran saya saja. Mudah-mudahan ini tidak terjadi. Saya gamang sendiri ketika melihat orang berniat baik bagi nusa, bangsa dan negaranya justru menjadi tersudut dalam keteraniayaan yang lara. Bila orang baik senantiasa seperti ditenggelamkan, dan bila orang baik memilih “diam” saya gamang.Kegamangan ini tak dapat saya sembunyikan. Gamang saya ketika kebaikan tenggelam, yang bangkit justru kejahatan-kejahatan.Ketika orang baik diam, orang jahat merdeka bergerak.
Archandra, anak muda genius pemegang beberapa hak paten dalam teknologi terbarukan di dunia perminyakan itu , sontak, setelah diangkat jadi menteri, 20 hari kemudian “diturunkan”. Sebabnya, ia disebut-sebut terkait pemegang dwikewarganegaraan.
Dwikewarganegaraan, bukan berarti ia bukan WNI. Ia tetap dalam ke-WNI-annya. Ia bukan orang asing.Karena, peristiwa yang ditibankan kepadanya adalah tentang dwikewarganegaraan.Bukan; tunggal kewarganegaraan.
Di mata saya,Arcandra adalah (masih) WNI.
Semestinya, bila bangsa ini ingin maju jaya dalam percepatan waktu---untuk mengejar segala ketertinggalan---harusnya negara mendata semua anak-anak bangsa yang pintar-pintar—yang jenius-jenius yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Bagi mereka yang telanjur melepaskan kewarganegaraannya, tak ada salahnya negara justru melakukan pendekatan-pendekatan kenasionalismean untuk kembali membujuk mereka menjadi Indonesia kembali. Bila perlu jalan untuk itu dimudahkan.Dimudahkan semudah-mudahnya, demi Indonesia hebat. Percepatan kehebatan Indonesia ini hanya bisa dilakukan bila para “pengurus” negara adalah orang-orang pintar yang gila kerja.Bukan gila, memberi komentar. Saya takut, negara yang sangat kita cintai ini terjebak pada budaya “ pemainnya” satu tukang komennya sejuta. Pada akhirnya, jangan sampai terjadi, di sini, di negeri yang cantik jelita ini—orangnya sibuk menyandang kata-kata—bukan menyandang cangkul untuk menggarap lahan kehidupan. Orang sibuk menaman kata, bukan menanam padi , sehingga yang tumbuh adalah bibit berbagai rupa kata-kata.Sebagian kata santun, sebagian kata puja, sebagian kata hina, sebagian kata sanjung, sebagian kata hujat, sebagian elok, sebagian carut marut.
Itu yang saya gamangkan.
Bukan saya rasis.Lihatlah, orang lain tak berdarah Indonesia saja, bila ia dapat mewangikan nama negara, kita bujuk ia untuk menjadi WNI.Contohnya, di lapangan sepakbola. Betapa banyaknya, pemain asing yang negara WNIkan.
Ini lapangan untuk kebaikan umat, mengapa kita sebegitu sempit menerjemahkan rasa nasionalisme. Bisa saja, mereka tak dapat mengelak untuk diber pilihan sulit di negara mana mereka mengabdikan diri. Menjadi warga negara asing, bukan berarti menjadikan darah, jiwa dan kulit kita menjadi asing di tanah air sendiri.
Politisi, boleh saja bicara Undang-undang. Negarawan boleh saja bicara sistem dan administrasi kepemerintahan. Tapi, untuk hal-hal yang memberi kemajuan bagi nusa, bangsa dan negara, mengapa ruang menjadi kita persempit. Kalau terlanggar Undang-undang, dengan Undang –undang juga kita “mempermaafkannya” demi percepatan pembangunan di negara yang kita cintai ini.
Itulah pikiran saya.Karena salah satu nikmat menjadi manusia di republik yang saya cintai ini, ikhtiar berpikir dilindungi Undang-undang.
Makanya, saya harus sampaikan ini.dan berharap, ada suatu pertimbangan.Yakni pertimbangan rasa dan pertimbangan hati.
Archandra, anak muda genius pemegang beberapa hak paten dalam teknologi terbarukan di dunia perminyakan itu , sontak, setelah diangkat jadi menteri, 20 hari kemudian “diturunkan”. Sebabnya, ia disebut-sebut terkait pemegang dwikewarganegaraan.
Dwikewarganegaraan, bukan berarti ia bukan WNI. Ia tetap dalam ke-WNI-annya. Ia bukan orang asing.Karena, peristiwa yang ditibankan kepadanya adalah tentang dwikewarganegaraan.Bukan; tunggal kewarganegaraan.
Di mata saya,Arcandra adalah (masih) WNI.
Semestinya, bila bangsa ini ingin maju jaya dalam percepatan waktu---untuk mengejar segala ketertinggalan---harusnya negara mendata semua anak-anak bangsa yang pintar-pintar—yang jenius-jenius yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Bagi mereka yang telanjur melepaskan kewarganegaraannya, tak ada salahnya negara justru melakukan pendekatan-pendekatan kenasionalismean untuk kembali membujuk mereka menjadi Indonesia kembali. Bila perlu jalan untuk itu dimudahkan.Dimudahkan semudah-mudahnya, demi Indonesia hebat. Percepatan kehebatan Indonesia ini hanya bisa dilakukan bila para “pengurus” negara adalah orang-orang pintar yang gila kerja.Bukan gila, memberi komentar. Saya takut, negara yang sangat kita cintai ini terjebak pada budaya “ pemainnya” satu tukang komennya sejuta. Pada akhirnya, jangan sampai terjadi, di sini, di negeri yang cantik jelita ini—orangnya sibuk menyandang kata-kata—bukan menyandang cangkul untuk menggarap lahan kehidupan. Orang sibuk menaman kata, bukan menanam padi , sehingga yang tumbuh adalah bibit berbagai rupa kata-kata.Sebagian kata santun, sebagian kata puja, sebagian kata hina, sebagian kata sanjung, sebagian kata hujat, sebagian elok, sebagian carut marut.
Itu yang saya gamangkan.
Bukan saya rasis.Lihatlah, orang lain tak berdarah Indonesia saja, bila ia dapat mewangikan nama negara, kita bujuk ia untuk menjadi WNI.Contohnya, di lapangan sepakbola. Betapa banyaknya, pemain asing yang negara WNIkan.
Ini lapangan untuk kebaikan umat, mengapa kita sebegitu sempit menerjemahkan rasa nasionalisme. Bisa saja, mereka tak dapat mengelak untuk diber pilihan sulit di negara mana mereka mengabdikan diri. Menjadi warga negara asing, bukan berarti menjadikan darah, jiwa dan kulit kita menjadi asing di tanah air sendiri.
Politisi, boleh saja bicara Undang-undang. Negarawan boleh saja bicara sistem dan administrasi kepemerintahan. Tapi, untuk hal-hal yang memberi kemajuan bagi nusa, bangsa dan negara, mengapa ruang menjadi kita persempit. Kalau terlanggar Undang-undang, dengan Undang –undang juga kita “mempermaafkannya” demi percepatan pembangunan di negara yang kita cintai ini.
Itulah pikiran saya.Karena salah satu nikmat menjadi manusia di republik yang saya cintai ini, ikhtiar berpikir dilindungi Undang-undang.
Makanya, saya harus sampaikan ini.dan berharap, ada suatu pertimbangan.Yakni pertimbangan rasa dan pertimbangan hati.
Baiklah, adatnya penataan, sudut pandangnya berbeda-beda.Pada sudut lain kita melihat rapi.Dari sudut lain, kita melihat kacau.Pada sudut yang lebih lain, justru tataannya ideal. Dan pada konteks ini, kita tak bisa melepaskan diri dari ketatanegaraan.
Tata negara, sifatnya khusus. Dan ia dinamis.Dan selalu butuh perapian-perapian.
Dan saya tidak tahu, dalam perapian ini adakah api lain yang menyala atau dinyalakan yang barangkali saja bisa untuk memberi cahaya, atau bahakn bisa juga untuk memanggang dan melenyapkan. Ini skenario lain dari sebuah tata negara.
Kita lupakan soal itu.Kita serahkan soal ini pada negarawan, bukan politisi. Boleh juga politisi, tapi politisi yang benar-benar seorang negarawan yang piawai dalam kenegaraan dalam sudut sistim kepemerintahan.
Tata negara, sifatnya khusus. Dan ia dinamis.Dan selalu butuh perapian-perapian.
Dan saya tidak tahu, dalam perapian ini adakah api lain yang menyala atau dinyalakan yang barangkali saja bisa untuk memberi cahaya, atau bahakn bisa juga untuk memanggang dan melenyapkan. Ini skenario lain dari sebuah tata negara.
Kita lupakan soal itu.Kita serahkan soal ini pada negarawan, bukan politisi. Boleh juga politisi, tapi politisi yang benar-benar seorang negarawan yang piawai dalam kenegaraan dalam sudut sistim kepemerintahan.
Ya mari kita ke Archandra.Melihat Arcandra dalam kaca mata “manusia” bukan kacamata politik, bukan kaca mata undang-undang.
Sebagai seorang wartawan, saya benar-benar ingin cari tahu, apa dan bagaimana dengan Archandra.
Lalu, tadi pagi, saya menelponnya.
Dari balik gagang telepon saya mendengar frekuensi suara yang sejuk, nyaman dan tenang. Sedikitpun tak ada getar gelisah dalam nada di balik gagang telepon itu.
Ia menyapa dalam bahasa elok.dalam bahasa Padang medok.
Saya bertanya padanya, seperti apa benar duduk tegak masalahnya?
Suara di balik sana , diam sesaat.Dalam diam itu, entah mengapa, saya dapat membayangkan wajah yang teduh dalam senyum yang elok.
Tak lama kemudian Arhcandra menjawab. “Saya juga tidak tahu dan tak mengerti dengan apa yang terjadi!”, jawab Archandra.
Ops..ini mengingatkan saya tentang kisah menjadi Menterinya Archandra.Sekitar seminggu sebelum dilantik jadi Menteri, Arcandra berdiskusi dengan Presiden Jokowi menyangkut perceoatan pembangunan dunia perminyakan Indonesia. Tak berapa hari kemudian, menjelang beberapa hari Arcandra dilantik jadi Menteri, datang telepon dari “istana” bahwa Archandra diminta Presiden untuk menjadi menteri.
Kemudian , dalam diam sesaat,Arcandra kembali berkata: “ Yang jelas ini adalah takdir.Takdir Allah yang menetapkan segalanya.Bukan manusia. Sebagai orang Islam, kita harus percaya takdir. Ya, takdir yang menyudahi semuanya”.
“Walqdai wal qada. Dan ini takdir nya harus dihadapi . Jabatan atau pangkat itu hanya amanah .Bisa datang dan bisa pergi kapan saja . Jadi ada pun skenario lain di luar pengetahuan manusia,tapi ada skenarioa terbaik datang dari Allah. Allah lah pembikin skenario terbaik…Dan mungkin skenario terbaik itu seperti ini. Insyaallah, untuk mengabdi, untuk berkarya pada negeri yang sama-sama kita cintai dan kita banggakan ini, tak harus menjadi menteri. Di mana-mana kita bisa berkarya dalam harapan rahmatan lil alamin”, ujar Arcandra .
Saya tergagau. Arcandra memang tak meminta untuk jadi Menteri.baginya, jabatan atau pangkat adalah amanah.Jabatan dan pangkat bukan untuk diminta-minta. Ia amanah, takdirnya ilahiyah.
“Mungkin ada tempat lain . Mungkin ada masanya saya nanti di sini atau ditempat lain.Ketetapan dan rencana Allah tentulah kita tidak tahu, yang pasti kita berikhtiar dalam kebaikan-kebaikan. Dan apapun itu, hanya Allah lah yang lebih tahu. Kita ambi saja hikmah nya. Kita bawa sholat sajalah.mudah-mudahan ke depan nya lebih baik lagi. Salam saya buat sanak-sanak sadonyo , salam buat kawan-kawan.Terimakasih atas segala dukungan moralnya.Terimakasih Buk Anna yang sudah bersedia menghubungi saya”, salam ka kawan2,dunsanak,salam hormat ,dan salam kenal.yo pak.
Plops.Telepon itu ditutup.
Saya termenung,menung dalam kesantunan dan kepintaran sang jenius itu…
Lalu, tadi pagi, saya menelponnya.
Dari balik gagang telepon saya mendengar frekuensi suara yang sejuk, nyaman dan tenang. Sedikitpun tak ada getar gelisah dalam nada di balik gagang telepon itu.
Ia menyapa dalam bahasa elok.dalam bahasa Padang medok.
Saya bertanya padanya, seperti apa benar duduk tegak masalahnya?
Suara di balik sana , diam sesaat.Dalam diam itu, entah mengapa, saya dapat membayangkan wajah yang teduh dalam senyum yang elok.
Tak lama kemudian Arhcandra menjawab. “Saya juga tidak tahu dan tak mengerti dengan apa yang terjadi!”, jawab Archandra.
Ops..ini mengingatkan saya tentang kisah menjadi Menterinya Archandra.Sekitar seminggu sebelum dilantik jadi Menteri, Arcandra berdiskusi dengan Presiden Jokowi menyangkut perceoatan pembangunan dunia perminyakan Indonesia. Tak berapa hari kemudian, menjelang beberapa hari Arcandra dilantik jadi Menteri, datang telepon dari “istana” bahwa Archandra diminta Presiden untuk menjadi menteri.
Kemudian , dalam diam sesaat,Arcandra kembali berkata: “ Yang jelas ini adalah takdir.Takdir Allah yang menetapkan segalanya.Bukan manusia. Sebagai orang Islam, kita harus percaya takdir. Ya, takdir yang menyudahi semuanya”.
“Walqdai wal qada. Dan ini takdir nya harus dihadapi . Jabatan atau pangkat itu hanya amanah .Bisa datang dan bisa pergi kapan saja . Jadi ada pun skenario lain di luar pengetahuan manusia,tapi ada skenarioa terbaik datang dari Allah. Allah lah pembikin skenario terbaik…Dan mungkin skenario terbaik itu seperti ini. Insyaallah, untuk mengabdi, untuk berkarya pada negeri yang sama-sama kita cintai dan kita banggakan ini, tak harus menjadi menteri. Di mana-mana kita bisa berkarya dalam harapan rahmatan lil alamin”, ujar Arcandra .
Saya tergagau. Arcandra memang tak meminta untuk jadi Menteri.baginya, jabatan atau pangkat adalah amanah.Jabatan dan pangkat bukan untuk diminta-minta. Ia amanah, takdirnya ilahiyah.
“Mungkin ada tempat lain . Mungkin ada masanya saya nanti di sini atau ditempat lain.Ketetapan dan rencana Allah tentulah kita tidak tahu, yang pasti kita berikhtiar dalam kebaikan-kebaikan. Dan apapun itu, hanya Allah lah yang lebih tahu. Kita ambi saja hikmah nya. Kita bawa sholat sajalah.mudah-mudahan ke depan nya lebih baik lagi. Salam saya buat sanak-sanak sadonyo , salam buat kawan-kawan.Terimakasih atas segala dukungan moralnya.Terimakasih Buk Anna yang sudah bersedia menghubungi saya”, salam ka kawan2,dunsanak,salam hormat ,dan salam kenal.yo pak.
Plops.Telepon itu ditutup.
Saya termenung,menung dalam kesantunan dan kepintaran sang jenius itu…


Tidak ada komentar:
Posting Komentar